Selama tahun-tahun ketika seorang Perwujudan Tuhan berjalan di antara manusia, kekuatan-Nya yang luar biasa disebarkan ke seluruh dunia, menyebabkan perubahan yang besar pada kenyataan segala yang diciptakan. Pada Hari yang Mulia ini, Sabda Tuhan bagi umat manusia telah diwahyukan kepada Sang Suci Bahá’u’lláh selama hampir empat puluh tahun, menganugerahi alam ciptaan dengan potensi-potensi yang tak terbatas, yang dengan berkembangnya potensi-potensi itu akan melahirkan suatu peradaban yang keindahannya tak terbayangkan. Turunnya Wahyu Ilahi secara terus-menerus selama empat puluh tahun itu berakhir pada tanggal 29 Mei 1892.

Sembilan bulan sebelum wafat-Nya, Bahá’u’lláh telah mengungkapkan keinginan-Nya untuk meninggalkan dunia ini. Sejak saat itu, dari nada pernyataan yang diutarakan-Nya, menjadi semakin jelas bahwa akhir dari hidup-Nya di dunia ini semakin dekat. Pada malam tanggal 8 Mei 1892, Beliau terkena demam ringan. Demam-Nya meningkat pada keesokan harinya, namun kemudian kelihatannya hilang. Beliau masih terus menerima teman-teman dan para peziarah yang menemui-Nya, namun segera diketahui bahwa kesehatan-Nya tidak baik. Demam-Nya timbul lagi, kali ini lebih parah dari sebelumnya, dan kondisi-Nya lambat-laun semakin memburuk. Pada saat fajar tanggal 29 Mei 1892, pada usia 75 tahun, roh-Nya meninggalkan dunia ini.

Enam hari sebelum wafat, Beliau memanggil semua mukmin untuk berkumpul di Rumah Bahjí, dan ini akan menjadi pertemuan terakhir dengan-Nya. Sambil berbaring di tempat tidur ditopang oleh salah seorang putera-Nya, Beliau berbicara kepada mereka. “Aku merasa sangat senang dengan kalian semua,” kata Beliau. “Kalian telah memberikan banyak pengabdian, dan sangat tekun dalam pekerjaan kalian. Kalian datang kemari setiap pagi dan petang. Semoga Tuhan membantu kalian untuk tetap bersatu. Semoga Dia membantu kalian dalam mengagungkan Agama Tuhan.” Air mata pun bercucuran dari semua yang hadir di sekeliling-Nya.

Kabar tentang wafatnya Bahá’u’lláh segera disampaikan kepada Sultan melalui telegram. Pesan tersebut diawali dengan perkataan “Matahari Bahá telah terbenam” dan selanjutnya memberi tahu Sultan tentang rencana pemakaman bagi jasad suci di dekat Rumah Bahjí. Akhirnya dipilih sebuah ruangan kecil di rumah di sebelah barat Rumah Bahjí dan segera setelah matahari terbenam, pada hari wafat-Nya, Jasad-Nya dimakamkan. Dengan demikian, kini Kiblat umat Bahá ditetapkan pada Tempat Suci itu. Nabil menggambarkan kedukaan pada hari-hari itu dalam kata-kata berikut: “Kupikir kekacauan rohani yang timbul di dunia fana ini telah menyebabkan semua alam Tuhan bergetar. … Lidah lahir dan batinku tak berdaya untuk menggambarkan keadaan yang sedang kami alami … Di tengah kebingungan yang melanda, banyak penduduk ‘Akká dan desa-desa di sekitarnya, yang berkerumun di sekeliling Rumah, terlihat menangis, memukul-mukul kepala, dan meratapi kesedihan mereka.”

Selama seminggu penuh, banyak sekali orang yang berduka, baik kaya maupun miskin, datang mengungkapkan duka cita mereka pada keluarga Bahá’u’lláh. Orang-orang terkemuka dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk Muslim, Kristen dan Yahudi, penyair, pemimpin agama dan pejabat pemerintah, ikut berduka atas kepergian-Nya dan memuji kebajikan dan kebesaran-Nya. Banyak di antara mereka bahkan memberikan penghormatan tertulis pada-Nya. Penghargaan serupa diterima dari berbagai kota di seluruh wilayah, semuanya diserahkan kepada ‘Abdu’l-Bahá, yang sekarang mewakili Agama Bahá’u’lláh. Namun demikian, dalam kata-kata Sang Wali, ungkapan kesedihan ini “hanyalah setetes jika dibandingkan dengan samudra kesedihan dan bukti-bukti yang tak terhitung dari pengabdian yang tak terbatas, yang pada saat terbenamnya Matahari Kebenaran tercurah dari kalbu ribuan orang di Persia, India, Rusia, Irak, Turki, Palestina, Mesir dan Suriah yang telah memeluk Agama-Nya dan bertekad untuk mengibarkan panjinya tinggi-tinggi.”

Setelah wafatnya Bahá’u’lláh, Nabil ditunjuk oleh ‘Abdu’l-Bahá untuk memilih tulisan yang akan disusun menjadi teks Loh Ziarah. Loh ini dibaca di Makam Sang Suci Bahá’u’lláh dan Makam Sang Suci Báb. Loh ini juga sering digunakan dalam memperingati hari-hari wafat Mereka. Wafatnya Bahá’u’lláh diperingati pada waktu dini hari tanggal 29 Mei. Berikut petikannya:

“Pujian yang berasal dari Diri-Mu yang maha luhur, dan kemuliaan yang bersinar dari Keindahan-Mu yang maha cemerlang, bagi-Mulah, ya Engkau, Penjelmaan Keagungan, dan Raja Keabadian, dan Penguasa segala yang ada di langit dan di bumi! Hamba naik saksi bahwa melalui Engkau kedaulatan Tuhan dan kekuasaan-Nya, serta keagungan Tuhan dan kebesaran-Nya, telah dinyatakan, dan semua Matahari kecemerlangan purba telah memancarkan sinarnya di langit perintah-Mu yang kekal, dan Keindahan Yang Gaib telah bersinar di atas ufuk alam ciptaan. Hamba bersaksi pula bahwa hanya dengan satu gerakan Pena-Mu, maka perintah “Jadilah” dari-Mu telah terlaksana dan Rahasia Tuhan yang tersembunyi telah terbuka, dan segala ciptaan diwujudkan, dan semua Wahyu diturunkan.

“Dan hamba naik saksi bahwa melalui keindahan-Mu, terbukalah tabir keindahan Dia Yang Disembah, dan melalui wajah-Mu bersinarlah wajah Dia Yang Dihasratkan; dan melalui satu kata dari-Mu, Engkau telah menentukan di antara segala makhluk, menyebabkan mereka yang mencintai-Mu dengan ikhlas naik ke puncak kemuliaan dan orang-orang musyrik jatuh ke dalam jurang yang paling rendah.

“Hamba naik saksi bahwa barangsiapa yang telah mengenal Dikau telah mengenal Tuhan, dan barangsiapa yang telah mencapai kehadiran-Mu telah mencapai kehadiran Tuhan. Oleh karena itu, diberkatilah dia yang percaya akan Dikau, dan akan tanda-tanda-Mu, dan telah merendahkan dirinya di hadapan kedaulatan-Mu, dan telah mendapatkan kehormatan bertemu dengan-Mu, dan telah mencapai rida-Mu, dan berkeliling di sekitar-Mu dan berdiri di hadapan singgasana-Mu. Celakalah bagi dia yang telah melawan Dikau, dan menyangkal Dikau, dan mengingkari tanda-tanda-Mu, dan menyangkal kedaulatan-Mu, dan bangkit menentang-Mu, dan menjadi sombong di hadapan wajah-Mu, dan telah membantah bukti-bukti-Mu, dan lari dari perintah-Mu dan kekuasaan-Mu, dan masuk dalam bilangan orang-orang musyrik yang nama-namanya telah ditulis oleh jari perintah-Mu dalam Loh-loh-Mu yang suci.

“Ya Tuhanku dan Kekasihku! Hembuskanlah kepada hamba keharuman suci kemurahan-Mu dari tangan kanan rahmat-Mu dan kasih-sayang-Mu, supaya dapat menarik hamba dari diri hamba dan dari dunia menuju istana kedekatan-Mu dan kehadiran-Mu. Berkuasalah Engkau untuk melakukan apa yang Kaukehendaki. Sesungguhnya, Engkau melebihi segala sesuatu.

“Ya Engkau Keindahan Tuhan! Bagi-Mulah sebutan dari Tuhan dan pujian dari-Nya, serta kemuliaan Tuhan dan kecemerlangan-Nya! Hamba naik saksi bahwa mata alam ciptaan belum pernah melihat orang yang diperlakukan tak adil seperti Engkau. Engkau telah ditenggelamkan sepanjang hidup-Mu ke dalam samudra kesengsaraan. Pada suatu waktu Engkau dibelenggu dan dirantai; dan pada waktu lainnya Engkau diancam oleh pedang musuh-musuh-Mu. Namun demikian, Engkau telah memerintahkan kepada semua manusia agar melaksanakan apa yang telah ditetapkan kepada-Mu oleh Yang Maha Tahu, Yang Maha Arif.

“Semoga rohku menjadi tebusan bagi perlakuan-perlakuan tak adil yang telah Engkau derita, dan jiwaku menjadi tebusan bagi kesengsaraan-kesengsaraan yang telah Kautanggung. Hamba memohon kepada Tuhan, demi Engkau dan demi mereka yang wajahnya telah diterangi oleh kecemerlangan cahaya wajah-Mu dan yang telah melaksanakan semua yang diperintahkan kepada mereka demi cinta pada-Mu, agar menyingkapkan tabir-tabir yang menghalangi antara Engkau dan makhluk-makhluk-Mu, dan menganugerahi hamba dengan kebaikan dunia ini dan akhirat. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Luhur, Yang Maha Mulia, Yang Maha Pengampun, Yang Maha Pengasih.

“Berkatilah, ya Allah Tuhanku, Pohon Ilahi dan daun-daun-Nya, dan cabang-cabang-Nya dan dahan-dahan-Nya, dan tangkai-tangkai-Nya, dan tunas-tunas-Nya selama berlangsung gelar-gelar-Mu yang maha luhur dan sifat-sifat-Mu yang maha tinggi. Lindungilah Pohon itu dari kekejaman para penyerang dan bala tentara kezaliman. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Kuat. Berkatilah pula, ya Allah Tuhanku, hamba-hamba-Mu, laki-laki dan perempuan, yang telah berhasil mencapai-Mu, Sesungguhnya, Engkaulah Yang Maha Dermawan, Yang kurnia-Nya tak terbatas. Tiada Tuhan melainkan Engkau, Yang Maha Pengampun, Yang Maha Dermawan.”