Ketika Bahá’u’lláh dirantai dalam penjara Síyáh-Chál, musuh-musuh-Nya sibuk berusaha agar Raja menjatuhkan hukuman mati bagi Beliau. Namun, Bahá’u’lláh dicintai oleh orang-orang dari kalangan tinggi maupun rendah dan tidak dapat dihukum mati begitu saja. Diperlukan bukti yang menghubungkan Dia dengan upaya pembunuhan terhadap Raja. Namun semakin mereka mencoba menemukan bukti, semakin jelas bahwa Dia sama sekali tidak bersalah. Karena tidak mampu membuktikan kesalahan-Nya, maka musuh-musuh yang kejam itu memutuskan untuk meracuni makanan-Nya. Tetapi begitu kuat racun itu, sehingga efek awalnya segera terlihat dan Bahá’u’lláh berhenti memakan makanan beracun yang mereka berikan pada-Nya. Akhirnya, para penguasa tidak punya pilihan lain kecuali membebaskan Dia dari penjara, namun mereka melakukannya dengan syarat Dia harus meninggalkan Persia dan hidup di pengasingan.
Bahá’u’lláh dipenjara selama empat bulan. Ia kini dalam keadaan sakit dan lemah. Kondisi penjara yang tidak manusiawi, rantai seberat sekitar 50 kilogram di leher-Nya, dan akhirnya racun, telah menyebabkan Dia menjadi begitu lemah sehingga harus terbaring di tempat tidur-Nya dalam perawatan yang penuh perhatian. Mata rantai telah mengakibatkan luka yang dalam di leher-Nya, dan meskipun luka itu sembuh setelah berjalannya waktu, namun bekasnya tetap tinggal sampai akhir hayat-Nya. Di tengah-tengah semua ini, dalam jangka waktu satu bulan keluarga-Nya harus bersiap-siap untuk melakukan perjalanan yang sangat berat. Bahá’u’lláh telah diberi kebebasan untuk memilih tempat pengasingan-Nya. Ia memilih Baghdád, yang pada waktu itu merupakan kota di Kesultanan Usmani (Turki) dan kini merupakan ibu kota Irak.
Perjalanan itu dimulai tanggal 12 Januari 1853 hingga 8 April tahun yang sama. Saat itu pertengahan musim dingin, dan Bahá’u’lláh beserta keluarga-Nya harus melewati bagian barat Iran yang musim dinginnya sangat dingin menusuk tulang. Perbekalan yang mereka bawa dalam perjalanan itu tidak mencukupi, dan mereka harus puas dengan makanan yang sedikit. Namun Pelindung kelompok kecil musafir itu adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, dan melalui bantuan-Nya yang tidak pernah gagal, mereka tiba dengan selamat di Baghdád.
Iran telah merugikan dirinya sendiri dari karunia kehadiran Bahá’u’lláh, dan telah memaksa-Nya untuk meninggalkan negeri asal-Nya untuk selamanya. Seorang sejarawan Bahá’í yang terkemuka menuliskan kata-kata berikut tentang pengasingan Bahá’u’lláh dari Iran:
“Saat Bahá’u’lláh mendekati perbatasan, suatu periode sedang berakhir. Sadarkah bangsa Iran akan kerugian yang mereka tanggung? Terbenam dalam kebodohan, tenggelam dalam kefanatikan, dibutakan oleh prasangka, dipimpin oleh orang-orang yang egois, tertipu oleh kepalsuan, nasib mereka bukanlah untuk mengetahui dan memahami. Demikianlah, Sang Penebus dunia telah berlalu dari tengah mereka. Dia Yang dulu dicintai dan dihormati oleh orang kaya dan miskin, tinggi dan rendah, pangeran dan petani, sekarang ditinggalkan oleh orang-orang yang sama yang dulu selalu dihujaninya dengan rahmat, cinta, keadilan dan kemurahan hati. Iran telah kehilangan kehadiran Bahá’u’lláh, namun pernahkah roh-Nya tidak hadir di negeri itu atau di negeri lainnya?”
Di Baghdád, Bahá’u’lláh menyewa sebuah rumah yang terletak di bagian kuno kota. Pada bulan-bulan setelah kedatangan-Nya, jumlah pengikut Agama Báb yang menuju Baghdád semakin bertambah. Sayangnya banyak yang tenggelam dalam keadaan yang menyedihkan; mereka dalam keadaan bingung, dan beberapa dari mereka melakukan tindakan yang tak layak bagi seorang pengikut Sang Báb. Dengan limpahan cinta, Bahá’u’lláh menerima semua orang yang datang itu dan membantu mereka membersihkan hati mereka dan menghidupkan kembali roh mereka. Di bawah pengaruh-Nya, nasib masyarakat pengikut Sang Báb mulai berubah dan harapan mulai muncul dan mekar kembali. Namun sayang, mulai muncul lagi krisis baru. Kali ini sumbernya dari dalam masyarakat sendiri; penyebab dari bencana itu tak lain adalah saudara seayah Bahá’u’lláh sendiri, Mírzá Yahyá, yang mengaku sebagai pengganti Sang Báb.
Pada kenyataannya, Sang Báb tidak melihat perlunya menunjuk seorang pengganti, karena Beliau mengetahui bahwa Janji dari Semua Zaman akan segera muncul. Apa yang dilakukan oleh Sang Báb, atas nasihat Bahá’u’lláh dan salah seorang murid-Nya, adalah menunjuk Mírzá Yahyá sebagai pemimpin. Dengan demikian, Bahá’u’lláh dapat memajukan Agama dengan relatif aman. Mírzá Yahyá telah menerima cinta dan dukungan yang besar dari Bahá’u’lláh sepanjang hidupnya, namun dia adalah seorang yang ambisius sekaligus pengecut. Kesyahidan Sang Báb telah begitu mengagetkan dia sehingga dia hampir kehilangan imannya. Dia mengembara selama beberapa waktu menyamar sebagai seorang darwis di pegunungan Mázindarán, di mana kelakuannya begitu memalukan sehingga dia mengakibatkan sejumlah pengikut Sang Báb di daerah itu keluar dari Agama. Setelah berganti-ganti samaran, akhirnya dia sampai di Baghdád, dan setelah mendapatkan sejumlah uang dari Bahá’u’lláh untuk berdagang, dia tinggal di salah satu wilayah di kota itu dengan memakai nama baru.
Semakin besarnya rasa hormat dan cinta yang ditunjukkan oleh para pengikut Sang Báb kepada Bahá’u’lláh, serta semakin meningkatnya reputasi Beliau di antara para pejabat kota, telah memberikan pengaruh buruk terhadap Mírzá Yahyá. Iri hatinya timbul dan api iri hati itu berkobar dengan amat kuat sehingga melahap habis kesusilaannya. Bersama dengan seorang temannya yang akhlak dan kelakuannya lebih buruk lagi, Mírzá Yahyá mulai menebarkan benih-benih keraguan di antara pengikut Sang Báb mengenai maksud Bahá’u’lláh. Sekali lagi awan kecurigaan, ketakutan dan khayalan hampa melanda masyarakat kaum Báb. Periode ketenangan dan ketentraman yang singkat itu pun berakhirlah, dan hari demi hari semakin dalam pulalah penderitaan Bahá’u’lláh.
Pagi hari tanggal 10 April 1854, keluarga Bahá’u’lláh terbangun dan menemukan bahwa Beliau telah pergi. Ia meninggalkan kota tanpa memberi tahu siapa pun berkenaan dengan maksud atau tempat yang dituju-Nya. Setelah melihat arah tindakan Mírzá Yahyá, Bahá’u’lláh memilih untuk mengasingkan diri ke pegunungan Kurdistan, di sebelah timur laut kota Baghdád. Beliau sendiri nantinya mengatakan, “Satu-satunya tujuan penarikan diri Kami adalah menghindar dari menjadi penyebab perselisihan di antara orang-orang mukmin, atau menjadi sumber gangguan pada para sahabat Kami, atau menjadi sarana untuk menyakiti jiwa siapa saja, atau penyebab kesedihan bagi hati siapa saja.”
Di tengah belantara, tidak jauh dari kota Sulaymáníyah, Bahá’u’lláh tinggal sendirian berhubungan erat dengan Tuhan. Ia puas dengan sedikit makanan. Sesekali Ia memperoleh susu dari para penggembala di daerah sekitar, dan kadang-kadang pergi ke kota untuk membeli kebutuhan pokok. Namun, bahkan hanya dengan hubungan yang singkat dan sedikit dengan masyarakat setempat itu, kebesaran Bahá’u’lláh tidak bisa disembunyikan dari mata mereka. Cinta dan kebijaksanaan-Nya menarik penduduk Sulaymáníyah dan ketenaran-Nya mulai menyebar ke wilayah sekitarnya. Berita tentang seseorang yang memiliki kebijaksanaan dan kefasihan yang luar biasa yang tinggal di daerah Kurdistan itu akhirnya mencapai Baghdád. Keluarga-Nya, yang mengetahui bahwa Orang itu pastilah Bahá’u’lláh, mengirim seorang mukmin yang dapat dipercaya untuk memohon pada Beliau agar kembali. Bahá’u’lláh mengabulkan permohonan itu, dan mengakhiri masa penarikan diri-Nya yang telah berlangsung selama dua tahun itu.
Selama Bahá’u’lláh tidak hadir, keadaan Agama mencapai titik terendah dalam sejarahnya. Seperti yang telah diduga, Mírzá Yahyá menunjukkan bahwa dia tidak mampu memimpin bahkan komunitas yang kecil di Baghdád. Di berbagai tempat, sejumlah kaum Báb melakukan kegiatan yang membawa malu terhadap Agama Sang Báb yang mulia ini. Sehingga, sekali lagi Bahá’u’lláh melakukan tugas menghidupkan kembali masyarakat pengikut Sang Báb. Kedatangan-Nya pada bulan Maret 1856 diumumkan kepada para mukmin, dan pintu rumah-Nya terbuka bagi siapa saja yang merindukan kebenaran. Rumah sederhana tempat Beliau tinggal bersama keluarga-Nya menjadi pusat berkumpulnya para pencari, pengunjung dan peziarah. Setiap orang yang datang di hadapan-Nya menjadi berubah karena daya kata-kata-Nya yang manis dan penuh kasih. Mereka yang tinggal dekat dengan Dia, merasa seolah berada di surga. Mereka menjadi ciptaan yang baru, benar-benar terlepas dari hal-hal duniawi. Berikut ini adalah penjelasan Nabil, seorang sejarawan besar dari zaman Bahá’í awal, tentang kondisi dari orang-orang itu:
“Sering kali, makan malam kami semua, yang berjumlah paling sedikit sepuluh orang, hanyalah berupa kurma senilai satu sen. Tak seorang pun mengetahui milik siapa sebenarnya sepatu, jubah, atau mantel yang ada di rumah-rumah mereka. Siapa saja yang pergi ke pasar dapat menyatakan bahwa sepatu yang dipakainya adalah miliknya, dan setiap orang yang memasuki kehadiran Bahá’u’lláh dapat menegaskan bahwa mantel dan jubah yang waktu itu dipakainya adalah miliknya. Nama-nama mereka sendiri pun telah mereka lupakan, hati mereka kosong dari semua hal kecuali pemujaan pada Kekasih mereka. … Aduhai gembiranya hari-hari itu, dan betapa bahagianya serta menakjubkannya saat-saat itu.”
Setelah kembali dari Sulaymáníyah, Bahá’u’lláh tinggal di Baghdád selama tujuh tahun. Selama masa tujuh tahun itu, Ia masih menyembunyikan Kedudukan-Nya sebagai Perwujudan Tuhan untuk Hari ini. Namun cinta Ilahiah yang mengalir dari Beliau begitu besar sehingga kalbu-kalbu yang terbuka pasti tersentuh olehnya. Bimbingan Ilahi yang diberikan-Nya dalam percakapan dan dalam ayat-ayat dan loh-loh yang tertulis merubah akhlak umat Báb yang terlantar tidak memiliki pemimpin selama bertahun-tahun. Itulah tahun-tahun ketika Dia menulis Kitab Iqan, di mana Dia menjelaskan sifat Wahyu Tuhan dalam istilah yang begitu jelas sehingga pondasi semua dogma buatan manusia di masa lalu dihancurkan. Selama waktu itu jugalah, saat berjalan-jalan di tepian sungai Tigris terbungkus dalam meditasi, diwahyukanlah Kalimat Tersembunyi, yang amat kita hargai sebagai bimbingan bagi pertumbuhan rohani kita. Kecepatan turunnya ayat-ayat yang mengalir dari Pena-Nya sangatlah menakjubkan. Berikut ini adalah rujukan Beliau sendiri terhadap periode dengan potensi yang luar biasa itu:
“… dengan bantuan Tuhan dan Anugerah Ilahi-Nya serta rahmat-Nya, bagaikan hujan yang lebat Kami menyingkapkan ayat-ayat Kami, dan mengirimnya ke berbagai belahan dunia. Kami memperingatkan semua orang, dan khususnya umat ini, melalui nasihat Kami yang bijaksana serta teguran yang penuh kasih, dan melarang mereka melakukan pemberontakan, pertengkaran, perselisihan dan pertentangan. Sebagai akibatnya, dan berkat rahmat Tuhan, ketidakpatuhan dan kebodohan diubah menjadi kesalehan dan pemahaman, dan senjata diubah menjadi alat perdamaian.”
Tujuh tahun dari masa hidup Bahá’u’lláh di Baghdád itu merupakan suatu periode kemenangan yang besar. Seperti yang sudah dapat diduga, cepat atau lambat pasti akan muncul krisis, yang akan diikuti oleh kemenangan yang lebih besar lagi. Wibawa Bahá’u’lláh yang makin meningkat tidak luput dari perhatian musuh-musuh Agama. Salah seorang musuh yang paling aktif adalah seorang Syekh yang menggunakan segala cara untuk meyakinkan para pejabat dari Pemerintah Persia maupun dari Pemerintah Usmani, serta para ulama, agar bangkit menentang Beliau. Namun selama bertahun-tahun berbagai usaha yang dilakukan oleh Shyekh itu digagalkan melalui kebijaksanaan Bahá’u’lláh serta keluhuran perkataan dan perbuatan-Nya.
Contohnya, suatu saat Syekh itu mengundang para ulama yang paling masyhur di wilayah itu dengan maksud agar memperoleh kesepakatan mereka dalam mengutuk Bahá’u’lláh dengan suara bulat. Mereka semua siap untuk melancarkan serangan terhadap kelompok kecil orang-orang buangan di Baghdád itu untuk menghancurkan Agama dari akarnya. Namun alangkah terkejutnya mereka, ketika orang yang berkedudukan paling tinggi di antara mereka, yang dikenal adil dan saleh, menolak untuk menjatuhkan hukuman terhadap kaum Sang Báb. Kepada kelompok itu ia mengatakan bahwa sepanjang pengetahuannya, para pengikut Sang Báb tidak pernah melakukan perbuatan yang pantas dijatuhi hukuman semacam itu, dan ia pun meninggalkan pertemuan itu.
Karena rencana awalnya telah gagal, maka kelompok itu memutuskan untuk mengutus seorang yang terpelajar kepada Bahá’u’lláh dan mengutarakan pada-Nya sejumlah pertanyaan untuk menguji ilmu-Nya. Karena Bahá’u’lláh menjawab semua pertanyaan itu, maka utusan itu pun mengakui, atas nama kelompok pemimpin agama, bahwa ilmu yang dimiliki Bahá’u’lláh sangatlah luas. Tetapi, dia berkata, agar dapat memuaskan setiap orang yang mempertanyakan kebenaran Misi-Nya, maka Ia perlu memperlihatkan kepada mereka suatu mukjizat. Bahá’u’lláh menjawab, “Walaupun kalian tidak berhak meminta hal itu karena Tuhanlah yang harus menguji makhluk-makhluk-Nya, dan bukan mereka yang menguji Tuhan, namun Aku mengizinkan dan menerima permintaan itu.” Ia memberi tahu utusan itu bahwa para pemimpin agama terlebih dahulu harus sepakat memilih satu mukjizat, dan menyatakan secara tertulis bahwa setelah mukjizat itu diperlihatkan, mereka tidak akan meragukan Dia lagi dan mereka semua akan mengakui dan menerima kebenaran Agama-Nya. Mereka harus menyegel dokumen itu, dan kemudian menyerahkannya kepada Dia.
Jawaban yang jelas dan menantang itu amat mempengaruhi si utusan. Dia langsung bangkit, mencium lutut Bahá’u’lláh, dan pergi. Dia menyampaikan pesan Bahá’u’lláh kepada kelompok para pemimpin agama. Mereka memperdebatkannya selama tiga hari, namun tidak dapat mencapai keputusan. Akhirnya, mereka tidak punya pilihan lain kecuali menghentikan hal itu.
Namun musuh-musuh yang kejam itu tidak berhenti dalam melakukan rencana jahat terhadap Bahá’u’lláh. Mereka terus menimbulkan kekacauan dan memberikan laporan palsu kepada para penguasa tentang maksud dan tujuan-Nya, sampai akhirnya pada musim semi tahun 1862, usaha mereka membuahkan hasil, dan muncullah krisis berikutnya.